KEKECEWAAN SEBAGAI LECUTAN
Kekecewaan adalah sebuah rasa tidak puas karena tidak terkabulnya keinginan atau harapan. Seringkali kita merasa kecewa di saat kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Kekecewaan juga bisa terjadi karena ulah orang lain atau diri kita sendiri. Setiap manusia di dunia pasti pernah merasakan kecewa, karena rasa kecewa adalah perasaan yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Rasa kecewa dapat menimbulkan berbagai macam perasaan, seperti sedih, marah, menyesal, bahkan khawatir berlebihan di saat kita merasa kecewa karena kita tidak berhasil mendapat apa yang kita inginkan. Dari banyaknya perasaan negatif yang kemungkinan dapat timbul ketika kita merasa kecewa, mampukah kita mengelola perasaan itu dan membuatnya menjadi energi yang positif?
Mari kita bahas bagaimana cara mengubah perasaan kecewa menjadi energi yang positif dan bagaimana kita menjadikan kekecewaan itu sebagai lecutan untuk meraih kesuksesan.
Perasaan kecewa tak selamanya merupakan perasaan yang negatif, justru rasa kecewa bisa kita ubah menjadi energi positif. Energi positif di sini diartikan sebagai rasa bahagia, kenyamanan, bersemangat melakukan sesuatu, memiliki harapan dan cita-cita, serta dapat mencintai diri sendiri. Energi postif ini kemudian akan mendorong kita untuk terus melakukan yang terbaik di setiap harinya.
Lantas bagaimana cara kita mengalihkan perasaan kecewa itu menjadi energi yang positif?
Hal pertama yang bisa dilakukan adalah kita harus tahu bahwa rasa kecewa itu sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan. Setiap perjalan hidup manusia tak bisa dipisahkan dari rasa kecewa. Itulah alasan mengapa kita sebagai manusia harus senantiasa berdoa dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Jadikan Allah SWT sebagai satu-satunya harapan kita. Karena di saat kita menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya harapan, niscaya akan terasa mudah segala langkah kita. Bahkan di saat kecewa pun, kita sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah SWT adalah yang terbaik untuk diri kita. Karena yang menurut kita baik, belum tentu itu adalah baik. Sebaliknya, yang menurut kita tidak baik, belum tentu hal itu seperti apa yang kita pikirkan.
Allah SWT berfirman, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Albaqarah : 216).
Jadi, biasakanlah diri kita untuk berprasangka baik kepada Allah SWT. Saat kita kecewa, tetaplah berprasangka baik bahwa di balik kekecewaan pasti ada hikmah yang tersirat. Bisa jadi di balik rasa kekecewaan itu Allah SWT ingin kita merasakan kebahagiaan dan keamanan. Mari membuka hati untuk dapat meresapi makna tersirat dari adanya perasaan kecewa yang kita alami.
Jadi, kesimpulannya adalah jangan jadikan kekecewaan sebagai keterpurukan. Jangan biarkan kekecewaan membuat kita menyerah dalam menggapai impian. Tetaplah berprasangka baik kepada ketetapan Allah SWT. Yakinlah, ada hikmah tersirat dari rasa kecewa yang kini dialami. Bisa jadi, kekecewaan yang kita rasakan hari ini adalah jalan untuk kita mendapatkan kebahagiaan di ujung perjuangan.
Lalu, bagaimana kita menjadikan kekecewaan itu sebagai lecutan untuk meraih kesuksesan?
Rasa kecewa seringkali hadir ketika kita gagal meraih sesuatu atau saat kita melakukan suatu kesalahan. Rasa kecewa juga dapat timbul dari perilaku seseorang terhadap kita.
Yang bisa kita lakukan adalah tetap mengontrol emosi kita agar tidak menimbulkan perasaan kecewa yang berlebihan. Ingat, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kita boleh saja merasa kecewa karena itu adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Namun, jangan pernah menjadikan kekecewaan sebagai penghambat dalam meraih impian.
Jadikan kekecewaan itu sebagai pembelajaran. Proses menjadi dewasa yaitu belajar dari segala kesalahan yang pernah dilakukan. Ubah rasa kecewa menjadi pendorong semangat dalam diri kita. Jadikan kekecewaan sebagai pengingat terhadap diri kita untuk senantiasa melakukan yang terbaik di setiap harinya.
Yang perlu kita tahu, bahwa diri kita sendirilah yang paling bertanggung jawab atas kehidupan kita. Kita yang paling bertanggung jawab untuk memajukan kehidupan kita. Kita yang paling bertanggung jawab atas semua cita-cita yang ingin kita raih. Maka dari itu, saat kita merasa gagal dan kecewa, maka bangkitlah!
Jangan pernah berpikir untuk menyerah, karena bisa jadi saat kita ingin menyerah, sejatinya keberhasilan itu tinggal selangkah.
Teruntuk kita semua, tetaplah berjuang menggapai segala impian. Jadilah pemuda yang bermental kuat, berani bertindak untuk melakukan perubahan besar di setiap harinya, dan pemuda yang tetap berdiri kokoh bahkan di tengah rintangan sekalipun.
Kekecewaan adalah bagian dari kehidupan dan proses untuk pendewasaan. Kita tidak mampu menghilangkan rasa kecewa dalam kehidupan, namun kita selalu mampu untuk mengolah setiap rasa kecewa menjadi besarnya semangat dalam dada.
Mari, jagalah energi positif dalam diri kita. Sehingga kita akan lebih mudah mengontrol segala rasa kecewa yang terjadi di dalam kehidupan. Karena ketika kita mampu mengendalikan rasa kecewa, rasa kecewa tersebut yang akan menjadi lecutan untuk kita meraih impian. Kita akan senantiasa belajar dari kesalahan dan hal ini membuat kita selalu berdoa dan berusaha dalam menggapai segala cita yang telah lama didambakan.
Oleh: Uli Fania Damayanti



Komentar
Posting Komentar