CERITA RASA DALAM DOA DAN AKSARA


 

Sebuah rasa yang terpendam dalam diri, tersimpan rapi dalam ruang hati, menjadi rahasia diri dengan Sang Illahi. Sebuah rasa yang mempelajari makna akan kehidupan. Pilu yang mengabu, mega yang kembali membiru, dan tangis yang berujung senyum manis, semuanya jadi satu. Menyatu menjadi  sesuatu yang mewarnai deru langkah.

Kala nestapa meronta, namun bibir selalu menghapus kata, di situlah pena merangkai aksara menjadi cerita rasa. Secarik kertas dan pena menjadi penenang kedua setelah doa. Untaian aksara dari risalah hati yang ingin didengar, terukir rapi dalam bait-bait kata.

Pena itu menari-nari di atas secarik kertas, mencoretkan segala cerita rasa dan asa. Curahan dan harapan menjelma makna di sela-sela kata.  Ditemani gemercik gerimis dan senandung bait lagu, tangannya gemulai merangkai aksara jadi untaian kata. Segala getar getir, suka duka, hitam pekat, tawa dan tangis diceritakannya dalam untaian kata.

Keheningan terbaiknya bukan menyepi dalam ruang, namun melantunkan doa di sepertiga malam. Leganya bukan setelah menangis pilu, namun setelah menumpahkan segala keluh kesah dalam tulisan.

Bukan, bukan karena dirinya tak suka bercerita. Bukan juga karena dirinya menjaga rahasia. Namun terkadang, lebih baik bercerita dalam doa dan aksara.

Tentang doa dan menulis, sahabat terbaik yang selalu jadi penenang lara yang tersembunyi di balik pelupuk mata.

Mengapa demikian?

Karena doa mampu mencipta bahagia. Doa mampu meringankan segala nestapa. Dengan segala doa yang telah dilangitkan, semoga perjalanan hidup selalu dimudahkan. Tumpahkan segala keluh kesahmu dalam doa. Berbagi segala cerita dengan Tuhan, maka kamu akan mendapatkan ketenangan. Karena Tuhan akan senantiasa menunjukkan jalan bagi hambanya yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam berdoa maupun berusaha.

Begitu juga dengan menulis, menulis membuat hati si penulis menjadi lebih bahagia. Dengan menulis, sudut bibir mampu tersenyum kembali. Tersenyum dengan segala harapan dan harsa. Menulis juga merupakan proses Self Healing atau penyembuhan diri. Di mana sang penulis akan merasa lebih tenang setelah menulis.

So, jika kalian sedang ingin bercerita, berbagi keluh kesah, lantunkan segala rasa dalam doa. Biar Tuhan jadi pendengar setia. Lalu, menulislah. Menulis tentang segalanya. Jadikan doa dan menulis sebagai salah satu penenang di kala kalbu berkecamuk, bahkan hampir remuk.

Bagi saya, menulis adalah suatu anugerah bahagia. Di saat saya menulis, di saat itu juga segala rasa tercurah lewat kata. Saya merangkai aksara jadi untaian kata. Menulis dan terus menulis. Ketika semua rasa telah saya torehkan melalui kata, saya tersenyum bahagia, merasa lega. Semua hal-hal yang mengganjal di relung kalbu sudah ditenangkan melalui bait-bait aksara.

Selain menulis, salah satu hal yang paling penting dilakukan saat kita butuh didengarkan adalah dengan berdoa.  Sepertiga malam adalah waktu terbaik kita memanjat doa. Di mana keheningan malam membuat kita menjadi lebih khidmat dalam melangitkan doa-doa. Allah SWT senantiasa membimbing hambanya yang bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berusaha.

Jadi, pelajaran yang dapat kita petik dari tulisan ini adalah, jangan pernah larut dalam setiap masalah. Jangan biarkan kegelapan menaungi dirimu. Berdoalah, lalu menulis. Tumbuh kan energi positif dalam dirimu. Di mana energi positif tersebut dapat membuat dirimu bersinar dan orang di sekitarmu bahagia.


Oleh: Uli Fania Damayanti

Komentar

  1. Ada rasa bahagia di tiap sela tulisan ini. Keren. Menggugah sekali. Semangat terus dan lanjutkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer