DERAP LANGKAH INDAH DI SEMESTA

 


Pagi itu, ku jalani rutinitasku seperti biasa. Dengan bersiap diri dan memantapkan hati bahwa hari itu akan menjadi hari yang baik. Aku berjalan menyusuri jalan yang sama, sembari bersenandung sesekali menatap ke langit melihat bahwa saat itu suasana pagi sedang cerah-cerahnya. Karena pagi adalah awal dari sebuah hari, jadi Aku akan pastikan suasana hatiku berseri untuk mengawali hari.

Aku tahu kala itu ada sedikit luka menganga yang tersembunyi di balik pelupuk mata, namun tak akan ku biarkan seorang pun melihatnya. Dengan bola mata berbinar dan senyum merekah, mereka akan mengira Aku baik-baik saja. Luka yang dirawat akan membuat langkah menjadi berat, begitu menurutku. Jadi, daripada Aku memanjakan luka, lebih baik Aku belajar berbahagia.

Namun nyatanya, melupakan luka tak semudah yang ku kira. Terkadang beberapa waktu membuatku khawatir akan semuanya. Aku sampai tak karuan dibuatnya. Dan ada beberapa waktu yang membuat perasaan takut menguasai seluruh pikirku. Namun waktu itu, dengan bersandiwara ceria, Aku menutupi semua luka.

Semenjak hari itu, Aku belajar satu hal untuk tidak perlu larut dalam luka, karena satu hal yang perlu diketahui adalah semesta selalu punya caranya tersendiri untuk menebar bahagia. Dan itu benar adanya, seperti jeda yang dipertemukan dengan jumpa sederhana.

Saat itu, seseorang yang begitu istimewa hadir di tengah semesta. Namun sayang, Aku dan dirinya tak mampu mencuri waktu untuk sekedar bertatap mata.

Aku senang semesta membuatku dapat melihatnya. Mungkin itu rencana Tuhan untuk menenangkan luka yang berkecamuk dalam dada.

Kamu berjalan di tengah poros semesta tanpa tahu bahwa Aku diam-diam memperhatikan. Derap langkah yang terdengar sayup-sayup seirama itu sepertinya ikut serta mewarnai semesta. Embusan serayu yang memelukmu pun jatuh tepat menembusku, menghapus segala bentuk kerinduan.

Semogaku waktu itu, berharap saling membalas pandang untuk sekedar mencuri senyuman dan akan kita dijadikan penenang kerinduan.

Tapi ada satu hal yang menurutku cukup, yaitu dengan mengetahui Kamu baik-baik saja. Hal itu mampu membuat nestapa dalam diriku bersembunyi dan tak ingin menampakkan diri lagi.

Entah ini apa, hanya dengan hal sederhana mampu membuatku merasa tenang bahagia.

Andai saja Aku bisa memberhentikan waktu, mungkin Aku akan membuat waktu berhenti untuk kita berdua bertegur sapa.

Tapi tak apa, Aku akan berterima kasih pada semesta karena menghadirkanmu untuk kita berjumpa. Walau sebuah perjumpaan yang sederhana, namun setidaknya itu dapat meredakan luka dan menenangkan rindu yang berkecamuk dalam dada.

Derap langkah indah itu mengingatkanku pada satu tahun yang lalu. Saat kita berjalan berdua sesekali tertawa.

Aku harap, semoga saja semesta punya cara yang tak terduga untuk kita berjumpa lagi dan kembali bersua rasa.

 

Tak perlu khawatir. Karena Tuhan adalah sebaik-baiknya perencana.

Jika kini jeda masih memberi jarak untuk rindu kita, Aku harap hatimu tak ke mana-mana. Karena di sini, Aku masih menanti dan tak akan berpaling hati.

Bagaimana bisa Aku berpaling hati, jika Kamu setiap hari jadi penguasa pikiranku ini.”


Oleh: Uli Fania Damayanti

Komentar

Postingan Populer