JEDA UNTUK BERJUMPA
Jeda kali ini beda, ya. Setiap harinya tak pernah ada ucapan sapa. Sebaris pesan pun tak lagi diterima. Katanya, “kamu baik-baik, ya. Nanti kita ketemu lagi”. Semenjak hari itu, kita sibuk mengejar cita. Meraih mimpi yang telah lama didamba. Masing-masing dari kita tak saling ada, namun tetap setia membawa nama dalam doa.
Jeda diantara kita ini membawa masing-masing dari diri kita untuk mengenal hal yang baru. Merasakan pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Terkadang di sela-sela waktu senggangku, bayang tanda tanya muncul dikepala, tanda tanya tentang, “apa masih terpikirkan olehmu tentang namaku?”
Lagi-lagi aku harus melupakan sejenak tentang tanda tanya itu. Lagi pula semesta selalu punya cara yang tak terduga untuk membuat dua insan berjumpa dan bersua rasa. Sama seperti halnya aku dan kamu yang sengaja dipertemukan oleh semesta waktu itu. Dulu, aku tak mengira bahwa itu bagian dari rencana semesta. Yang aku tahu, sikap konyolmu dulu hanya sekedar menghiburku yang waktu itu hanya temanmu. Tapi siapa sangka, tawa itu kini menjelma jadi cerita asmaraloka.
Cerita asmaraloka yang senantiasa dijaga. Namun siapa sangka harus dihentikan oleh jeda. Aku menyaksikan bayang yang lambat laun semakin menjauh. Kita saling tersenyum, sebelum semuanya samar abu-abu.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Hari-hari telah terlewati. Semua cerita yang biasanya kita bicarakan bersama walau hanya dengan sebaris pesan di layar ponsel, kini mau tak mau hanya bisa ku curahkan pada kertas-kertas yang ku ukirkan aksara dengan pena. Semua cerita rasa itu, ku lantunkan dalam indahnya doa. Karena doa senantiasa mendekap raga, menenangkan segala kerinduan, dan meyakinkan segala bentuk kegundahan.
Di bawah nabastala yang serupa, kita mengembara semesta. Ternyata diam-diam semesta memotret setiap rindu kita dan menerbangkannya diantara anila. Tatkala anila mendekap raga kita, ketika itu juga rindu sampai pada tempatnya.
Tuhan punya rencana yang indah, rencana itu tersampaikan melalui setiap peristiwa semesta. Dan itu benar adanya. Setelah jeda ini, kita benar-benar berjumpa. Kala itu agaknya asing. Kemudian sebuah kalimat sapa terucap bersama lengkung sudut tersenyum. Aku menatap, tak percaya. Tapi itu bukan fatamorgana, melainkan nyata.
Ditemani sejuknya angin yang mendekap sarira, di situ kita bercerita tentang segalanya. Tentang bagaimana menjalani hari tanpa ucap selamat pagi. Bagaimana meletih dalam doa seorang diri, tanpa ada yang menyemangati. Semua cerita, dari hal yang paling sederhana sampai hal rumit diceritakannya.
Kita tertawa, saat masing-masing bertukar cerita tentang hal-hal konyol yang pernah dialami. Sesekali mengerutkan dahi sambil mendengar cerita dengan saksama, sebelum akhirnya terpingkal bersama.
Kala itu berbinar netra kita. Lengkung sudut tersenyum dengan cahaya harsa. Aku bersandar dan memejamkan mata, berdoa agar kita jadi selamanya, tanpa jeda. Kamu pun begitu, mendoakan hal yang serupa.
Jeda yang lalu telah membuat kita tersekat oleh berpuluh mil jarak. Jeda yang lalu telah mendiamkan kita tanpa kata. Namun, jeda tak selamanya membuat nestapa.
Terkadang, kita dibuat jeda oleh semesta, untuk berjumpa lagi dengan rasa yang sama.



Komentar
Posting Komentar