RUANG SINGGAH

 

Di sebuah ruang, rindu membeku. Sejauh ini, belum lagi saling sipu. Dirinya dan diri dia berada dalam ruang lingkup masing-masing. Setelah waktu itu, semesta membuat jalan mereka berbeda. Namun untaian doa yang tersirat sepertinya mampu menggapai dua insan yang raganya tak satu singgah.

Masing-masing masih membawa nama dalam deru langkah. Pekat namun tak terpikat. Ini tentang sebuah perjalanan yang kisahnya sudah, bukan punah. Tentang penantian yang menjadi rahasia diri dengan Sang Illahi. Bak kalimat yang akhirnya rumpang, dirinya dan diri dia lupa akan bersapa.

Kala itu dirinya dan diri dia tersayat, retak. Karena mereka manusia biasa, yang rentan terluka. Bahkan senyuman yang terukir di wajah eloknya mungkin saja hanya kiasan, agar manusia bumi tak memelas padanya. 

Tiba di sebuah purnama, saat derai menghias hujan, sekelebat bayang merasuki pikiran. Bayang tentang kabar seakan ingin segera ditenangkan.  Hening tak henti-hentinya bergeming. Membuat pilu lalu membiru. Duduk bersimpuh, luluh, dalam ruang singgah yang berbeda. Dihujani memori yang lambat laun tinggal menepi, tersimpan rapi. Dirinya dan diri dia mencipta sekat, sia-sia.

Kenang yang dibawa semesta, melayang bersama deru angin, menelisik ventilasi, menuju ruang; bahwasanya detak yang dilupa masih tetap seirama. Selagi dapat menggapai bayang, dirinya dan diri dia akan baik-baik saja. Walau bersanding kini nampak asing.

 
Oleh: Uli Fania Damayanti


Komentar

Postingan Populer