CERITA DI UJUNG PURNAMA
Kala itu semesta memotretnya. Mengabadikan tiap peristiwa tentangnya. Purnama senantiasa menemani. Deru angin yang lalu lalang seolah tak peduli tentang ada apa dan mengapa.
Tentang pikirannya yang semakin kalut. Lama-kelamaan Ia terbenam dalam bulir bening.
Ia seolah berada dalam labirin ketakutan.
Kalut, dan semakin kalut.
Semesta tahu betul tentangnya. Ia yang menyukai lelucon dan sinar matanya selalu berbinar. Namun karena ulah manusia bumi yang buta hati, kini dirinya memilih untuk bungkam dan seolah tak peduli.
Ia terlihat sangat periang. Namun apakah dunia tahu bagaimana kerapuhannya saat hanya ada dirinya dan purnama di semesta.
Terkadang menyalahkan diri sendiri.
Padahal ini bukan salahnya, tetapi kesalahan manusia bumi yang tak tahu bagaimana cara untuk memahaminya.
Beruntung hatinya tak mati.
Beruntung dirinya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, yang selalu memberikan pelajaran berharga untuknya.
Ia tak pernah larut dalam keterpurukan.
Ia selalu berhasil temukan secercah cahaya kebahagiaan.
Dirinya mulai menemukan senyumnya kembali. Walaupun terkadang ada saja orang yang berusaha menghilangkan senyumnya itu, Ia tetap tersenyum.
Mereka tak tahu seberapa tangguh dirinya. Ya, Ia cukup tangguh untuk jadi dirinya sendiri.
Ada ucapan terimakasih yang tersirat darinya untuk mereka yang pernah menjatuhkannya. Terimakasih karena mereka, pandangannya terhadap dunia menjadi lebih luas. Dirinya mampu melihat suatu hal dari banyak sudut pandang. Karena mereka, dirinya mendapatkan sebuah pelajaran yang amat berharga. Karena mereka, dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.
Ia selalu berhasil bekerja sama dengan dirinya sendiri. Merapikan konflik antara relung batin dan pikirannya.
Ia yang dulunya rapuh, kini mencoba untuk tangguh. Tetap tangguh.
Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri. Mencoba menerima dan memperbaiki. Dirinya tak pernah mau "stuck" di satu titik. Menurutnya, keluar dari zona nyaman itu perlu.
Karena Ia paham betul, lama-kelamaan zona nyaman itu akan memberi sekat agar terjebak. Makanya ia tak pernah membiarkan satu orang pun menjebaknya dalam zona nyaman.
Ia pernah mencoba keluar dari zona nyaman. Namun awalnya tak mudah. Selalu saja ada hal yang seolah menahannya untuk tidak kemana-mana.
Tapi dirinya tak memperdulikan itu.
Ia tahu bahwa ini sudah terlampau jauh. Dirinya pun memberanikan diri untuk bebas dari zona nyaman.
Percayalah, kini dirinya baik-baik saja. Ia selalu yakin bahwa sesuatu yang digariskan untuk jadi miliknya akan tetap jadi miliknya
Untuk dirinya, semoga tetap kuat.
Lekas pulih dari takut yang berlebih.
Akan selalu ada orang-orang baik untuknya dan akan selalu ada doa-doa baik yang disemogakan untuknya.
Oleh: Uli Fania Damayanti



Komentar
Posting Komentar